Tuesday, November 27, 2018

SANTRI MILENIAL CERDAS DI MEDSOS

 SANTRI MILENIAL CERDAS DI MEDSOS


Di era digital, segala sesuatu bisa dipelajari melalui internet, jika hsnya itu yang selalu di lakukan maka lama kelamaan para pakar ilmu tidak dibutuhkan lagi, kalau keadaan ini terjadi, maka proses akademik yang sudah berlangsung beberapa abad akan luntur, dan jika ini terjadi maka kita teringat dengan sebuah hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, “jika suatu urusan diserahkan bukan pada ahlinya maka tunggulah kehancurannya. (HR. Bukhori).

Lihat saja, Generasi milenial banyak belajar agama melalui internet yang mengesampingkan kepakaran dalam bidang agama. Mereka secara otodidak berguru melalui Google, melalui video di Youtube dst, mereka lupa belajar agama seperti santri yang secara langsung bertatap muka (muwajjahah) dengan Tuan Guru atau Kiyai fan Ustdz, belajar dengan belaiu-beliau yang mempunyai sanad keilmuan tersambung (muttasil) sampai ke pengarang kitab dan sampai ke Rasulullah SAW.

Maka kiita sangat-sangat beruntung menjadi seorang santri pondok pesantren yang sangat menghargai “proses” menghargai kepakaran, mempelajari sebuah ilmu di pesantren itu melalui proses yang panjang bermula dari mempelajari ilmu yang paling dasar (ushuli) kemudian sampai mempelajari ilmu cabang (furu’i), belajar dari yang umum (am)  kemudian baru yang khusus (khos),

Ilmu di pesantren adalah subtansi, yang berkaitan dengan kitab suci Alquran dan Hadis yang sangat sakral termasuk ilmu-ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah dst). Tidak berlebihan jika empunya ilmu, sang guru, juga sakral. Kenapa?

karena beliau memegang teguh ‘adalah dan muru’ah (moral probity), hati-hati dalam bersikap dan menjaga kehormatan peribadinya dan ilmu yang dimilikinya, maka sebagai seorang murid kita harus hormat kepada para ahli ilmu. Di dalam kitab Ta’limul Muta'alim diterangkan tentang etika dan etiket menghargai ilmu dan ahlinya, seperti suci ketika memegang kitab, menghadap kiblat ketika mengaji, dan mengirimkan alfatihah kepada pengarang kitab ketika mau mengaji dst.

Di pesantren kita belajar tentang bagaimana tata cara menghargai seorang Guru, Tuan Guru beserta zurriyyat (keluarganya).

Mengapa?

Karena di pesantren selain mengenal istilah “ilmu manfaat” kita juga mengenal istilah “ilmu barokah”. Barokah tidak akan bisa didapatkan tanpa adanya penghormatan kepada ahli ilmu. di pesantren para kiai tidak hanya mengajarkan ilmu melalui transfer of knowledge melalui pengajaran sorogan, bandongan, musyawarah, rihlah ilmiah dst tetapi juga para kiai mengajari tentang akhlak dengan menjadi teladan dan role model  keilmuan, bahkan para kiai juga mendoakan para santri-santrinya kelak menjadi orang yang bermanfaat dan barokah di dunia dan akhirat. Inilah karakteristik santri yang “mahal” yang dimiliki oleh seorang santri karena tidak hanya terikat secara dhohiriyah (luar) saja tetapi terikat secara bathiniyah (dalam) juga, tidak hanya raganya tetapi juga jiwanya.

Maka sebagai Santri Milenial, haruslah cerdas dalam bermedia, harus benar-benar bisa memanfaatkan media dengan sebaik mungkin serta menggunakannya sebagai media dakwahnya untuk menyebarkan syi'ar islam ahlussunnah wal jama'ah dan haruslah berhati-hati (tabayyun) terhadap apa yang di ambil dari media.

#SantriNW #SantriMilenial
#ibnurustam_allobary
Comments


EmoticonEmoticon