Friday, October 11, 2019

Aku Hanya Bermodal Cinta


Aku Hanya Bermodal Cinta

Sebagai insan yang diciptakan oleh Allah SWT. tentu memilki hati yang dengan hati itu manusia bisa merasakan kesenangan, kebahagiaan, marah dan lain sebagainya. Dengan hati pula bisa memicu dan mendorong seseorang untuk berbuat kebaikan ataupun keburukan karena hati ini merupakan raja dari semua organ tubuh manusia.
Maka cinta itu terlahir dari hati. Oleh karenanya maka pastikanlah bahwa yang kita cintai itu adalah yang baik-baik karena semua itu dapat menentukan nasib baik atau buruknya seseorang baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Diriwayatkan oleh Sayyidina Malik bin Anas ra. bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw. perihal hari kiamat. “Kapankah datangnya hari kiamat itu wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. kemudian balik bertanya kepada laki-laki tersebut, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya?” Laki-laki tersebut menjawab, “Belum ada wahai Rasulullah, kecuali hanya (modal) cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah saw. kemudian bersabda:
انت مع من احببت
“Engkau bersama orang yang kamu cintai.” (HR, Bukhari)
Berita dari Rasulullah saw. tersebut menjadi penyejuk hari para sahabat ketika itu dan juga bagi kaum mukminin, namun ketahuilah bahwa berita tersebut juga menjadi tamparan yang sangat keras dan ancaman bagi orrang-orang yang keliru dalam memberikan dan mengalamatkan cintanya.
Bagi Sayyidina Malik bin Anas ra. berita ini sungguh sangat menggembirakan hatinya sehingga beliau berkata, “Sungguh tiada yang menggembirakan hati kami daripada hadits Rasulullah, “Seseorang bersama orang yang ia cintai.” Dan beliau juga mengatakan bahwa, “Aku mencintai rasulullah saw. Abu Bakar dan Umar dan aku berharap dapat berkumpul bersama mereka dengan bekal kecintaanku kepada mereka, kendati aku belum bisa beramal sebagaimana mereka beramal.”
Lalu apakah dengan modal cinta bisa masuk surga? Bahkan bisa berkumpul dengan orang yang kita cintai kelak di surga? Benar, begitulah memang yang sebenarnya. Akan tetapi ketahuilah bahwa dengan cinta pula seseorang tersungkur ke dalam neraka. Kenapa bisa demikian? Karena tergantung kepada apa dan siapa ia memberikan cintanya dan bagaimana ia mengekspresikan kecintaannya terhadap siapa yang ia cintai.
Maka hadits ini tidak hanya menjadi berita gembira namun hadits tersebut sekaligus menjadi tamparan kerasbagi mereka yang mencintai, membanggakan, menyanjung ataupun mengidolakan manusia dengan tipe seperti maghdubun ‘alaihim yaitu orang-orang yang dimurkai oleh Allah swt dan dhaallun yaitu orang-orang yang tersesat, seperti orang kafir atau munafiq. Karena kecintaan itu akan menempatkan dan menentukan antara orang yang mencintai dan orang yang ia cintai di tempat yang sama.
Maka sungguh cinta itu sangat agung dan luar biasa. Ia menjadi unsur pendorong manusia dalam berbuat dan penggerak untuk berusaha dalam mencurahkan pengorbanan demi apa yang ia cintai. Seberapa hebat dan semangat seseorang dalam pengorbanannya itu tergantung kepada kekuatan cinta yang bersemayam dan melekat dalam hatinya. Demi cinta seseorang rela berkorban, mencurahkan tenaga, dan menghabiskan waktunya. Bahkan karena cintanya pula ia rela mempertaruhkan kebahagiaannya sendiri demi apa yang ia cintai, ia tidak peduli lagi dengan dirinya. Betapa dahsyat dampak dari cinta, hingga dampaknya tidak hanya di dunia melainkan sampai akhirat kelak. Terpisahnya cinta di dunia bukanlah akhir dari perjalanan cinta karena masuh ada pengadilan di akhirat, di mana seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai selama di dunia.

[]Walahu a’lamu bisshawab.

Comments


EmoticonEmoticon